handiramy's Blog

Just a stupid weblog

Kapan nikah?

Ditanya “Kapan nikah?”, “Kapan nyusul?”, atau “Mana calonnya?”, merupakan hal yang sudah biasa bagi saya. Tidak ada perasaan malu, sedih, maupun sakit hati dari pertanyaan-pertanyaan itu. Toh mereka juga menanyakannya dengan cara yang sopan, atau dengan bercanda.

Namun pernah sekali waktu saya menjumpai seorang pria paruh baya yang menanyakan hal yang sama, tapi dengan cara yang menurut saya kurang pantas. Bahkan dari nada bicara dan ekspresi wajahnya pun arogan, dan terkesan menghina.

“Loh, ternyata kamu seumuran dengan anak saya. Anak saya saja sudah menikah, kenapa kamu belum?”, sambil kedua lengannya berkacak pinggang.

Kalau hanya membaca pertanyaan itu saja tanpa membayangkan ekspresi wajah dan nada bicaranya, tentunya tak terkesan merendahkan. Sayangnya, dalam tulisan, nada bicara dan ekspresi wajahnya yang merendahkan saya itu tidak dapat digambarkan.

Lalu bagaimana saya menanggapinya?

Pertama-tama, saya hanya tersenyum. Melihat saya yang hanya tersenyum, dia melontarkan pertanyaan yang sama sekali lagi, dengan lebih merendahkan lagi.

Kali ini, saya sudah ingin menjawab, namun saya melihat kode-kode dari ibu saya untuk tetap diam. Ya. Ibu. Beliau paham betul cara saya menjawab pertanyaan yang merendahkan dari orang lain. Daripada merusak suasana, bahkan merusak silaturahmi, lebih baik diam. Selalu begitu prinsip ibu.

Sebelum pria ini sempat melanjutkan arogansinya, ada pria paruh baya lainnya yang menggantikan saya untuk menjawabnya, “Beda dong. Dia lulusan ITB. Yang dipikir pasti karir dan sekolah dulu.”, dengan nada bercanda sehingga tidak menyinggung si lawan bicara.

Lalu si pria arogan ini hanya tertawa kecil saja. Mungkin sedikit tersindir, karena anaknya yang sudah menikah itu bukan alumni universitas ternama, dan pekerjaannya juga tidak jelas. Orang yang arogan seperti itu, tentunya hanya diam saja jika merasa kalah.

Well, sebetulnya saya ingin menjawab beliau seperti ini.

Menikah itu bukan tentang siapa cepat dia dapat, karena pernikahan bukan barang sale. Menikah itu tentang bagaimana mempertahankan rumah tangga, dan bertanggung jawab melaksanakan peran masing-masing, apapun kondisinya. Menikah itu tentang mencari teman hidup selamanya, bukan sekedar menukar cincin demi gengsi semata. Alhamdulillah, putri Anda sudah diberi rizki yang tak ternilai: seorang suami. Karena tak ada wanita di dunia ini yang sanggup hidup sendiri. Begitu pula dengan saya. Sayangnya, saya belum seberuntung putri Anda. Ya. Betapa kurang beruntungnya saya: tidak pernah membayar biaya kuliah (karena beasiswa), lulus tidak tepat waktu, dan saat lulus pun harga minyak dunia sedang anjlok sehingga tak ada lowongan pekerjaan di dunia migas. Tidak seperti putri Anda yang bisa melamar dimanapun. Dan sekali lagi putri Anda lebih beruntung, karena tidak mengenal prinsip ‘Women must have power’. Sayangnya, saya adalah penganut prinsip tersebut, karena kejelekan saya selama ini: terbiasa mandiri. Putri Anda beruntung karena tidak perlu memikirkan masa depan, toh suaminya sudah punya pekerjaan tetap, dan ayahnya kaya raya. Saya tidak seberuntung itu karena saya tidak ingin merepotkan orang tua saya untuk membiayai terus menerus semua kebutuhan saya, dan saya harus sudah membuat persiapan jikalau suatu hari nanti terjadi apa-apa pada suami saya. Itulah mengapa saya belum menikah. Entah saat ini saya sudah atau belum memiliki calon pasangan hidup, saya belum mau menikah saat ini. Masih banyak life goals sebelum menikah yang belum saya capai. Anda tenang saja, suatu hari nanti saya pasti menikah. Entah besok, bulan depan, tahun depan, atau beberapa tahun lagi. Siapa yang bisa menebak rahasia Allah?

***

Untuk kalian yang belum menikah, tak usah bergalau hati. Yakinlah pada Tuhanmu, apapun agamamu. Waktumu pasti datang. Rencana Tuhan itu selalu indah.

***

Jehan Eldira Islamy

Yogyakarta, 11 April 2017

Mohon mencantumkan sumber jika ingin share, screenshot, copy paste, dsb. Terima kasih sudah berkunjung. 🙂

Advertisements
Leave a comment »

Pengalaman: Bikin Paspor

Yo! Kali ini gue mau berbagi pengalaman waktu bikin paspor di kantor imigrasi Jakarta Timur n Jakarta Selatan.

Pertama2, gue mau jelasin dulu persyaratan yang harus dilampirkan. Mau bikin baru maupun perpanjang, persyaratannya sama ya.

Persyaratan buat yang udah berumur 17 tahun ke atas, antara lain:

  • KTP asli dan 1 lembar fotokopinya dalam ukuran A4 atau F4 tanpa dipotong. Ingat ya. Jangan dipotong. Khusus buat yang pengen bikin e-paspor, harus pake e-KTP. Dan buat yang e-KTP nya belom jadi gara2 dikorupsi Rp1.8T, bawa surat pengganti KTP yang dikeluarin kelurahan.
  • Kartu Keluarga alias KK asli, beserta 1 lembar fotokopinya dalam ukuran A4 atau F4. Jangan dipotong. Buat elo yang nakal dan dikeluarin dari KK, gue ga tau deh. Hehe bercanda. Buat elo yang pengen bikin paspor sekeluarga atau lebih dari 1 orang dalam 1 KK yang sama, masing2 orang tetap harus bawa 1 lembar fotokopi KK. Urutan antrian utamakan si kepala keluarga sebagai pemegang KK asli.
  • Akter lahir / ijazah / buku nikah, yang asli beserta 1 lembar fotokopinya ukuran A4 atau F4 tanpa dipotong. Nama yang tercantum di sini lah yang dijadikan rujukan untuk nama paspor. Pilih salah satu aja cukup, tapi lebih komplit lebih bagus.
  • Paspor lama asli dan 1 lembar fotokopinya ukuran A4 atau F4 tanpa dipotong. Ini khusus buat yang mau perpanjang.
  • Surat permohonan dan surat pernyataan bermaterai. Surat2 ini nanti dikasih sama petugasnya di sana, dan ga usah difotokopi. Jadi kita tinggal bawa bolpen tinta hitam dan materai. Btw ga semua kantor imigrasi butuh materai. Tapi bawa aja sih buat jaga2. Ga usah bawa lem, kan materai tinggal dijilat aja bisa nempel. Serius. 
  • Sabar. Demi dapet nomer antrian, kita memang harus dateng pagi. Biasanya sih orang2 dari jam 4 pagi udah mulai ngantri. Tapi ga usah lebay ngantri dari jam 1 lah apalagi sampe nginep. N gue saranin datengnya maksimal jam 6 lah. Buat yang muslim ga usah takut, ada masjidnya kok di situ. Bersih.
  • Tidak menggunakan kaos oblong dan/atau sandal jepit.

Gimana kalo yang masih di bawah 17 tahun dan belum punya KTP? Ini nih persyaratannya:

  • KTP orang tua yang masih berlaku. Asli dan fotokopi ukuran A4/F4 tanpa dipotong.
  • Kartu Keluarga (KK) asli dan fotokopi ukuran A4/F4.
  • Akte kelahiran asli dan fotokopi ukuran A4/F4.
  • Buku nikah orang tua asli dan fotokopi ukuran A4/F4.

Selengkapnya bisa dilihat di foto di atas ya. Buat elo yang udah terlanjur ke sana tapi lupa fotokopi, tenang aja, di kantinnya ada fotokopi kok. Yang dateng subuh n kelaperan juga ga usah khawatir, di depan gerbang banyak orang jualan kok. Tapi ya cuma bangsanya pop mie, roti, lemper. Ada yang jual materai n pulpen juga.

Buat kalian yang pengen bikin e-paspor, perlu diketahui bahwa untuk saat ini pembuatan e-paspor hanya bisa dilakukan di Kantor Imigrasi Kelas 1 saja, dan baru di 3 kota ini aja: Jakarta, Surabaya, dan Batam.

Nah, sekarang gue mulai sharing kronologis bikin paspor.

29 MARET 2017

Kurang lebih jam 6 pagi (persisnya gue lupa, karena ga liat jam) gue nyampe ke kantor Imigrasi Kelas 1 Jakarta Timur. Waktu itu gue dateng bertiga sama nyokap bokap gue. Rencana kami memang untuk perpanjang paspor dan sekalian upgrade ke e-paspor. Kebetulan paspor nyokap bokap gue udah habis dari Desember 2016 dan punya gue mau habis bulan Juni 2017 nanti.

Sampe sana, gue langsung tanya satpam lokasi antriannya, yang ternyata ada di parkiran mobil. Jadi parkirannya sengaja dikasih bangku2 n belum dipake buat parkir kendaraan sampe jam 10 pagi.

Pak satpam nanya berapa orang yang mau urus paspor. Gue bilang 3. Lalu dia dari mejanya ngambilin 2 lembar kertas sebanyak 3 rangkap, trus nganterin gue ke posisi antrian. Belum dikasih nomer.

Nah lembaran kertas yang dikasih pak satpam ini bisa diisi sambil nunggu antrian.

Lembar yang pertama adalah SURAT PERNYATAAN. Dibutuhkan materai di sini. Jadi buat kalian yang mau urus paspor di Imigrasi Jakarta Timur sebaiknya sedia materai (dan juga bolpen warna tinta hitam).

Lembar kedua adalah formulir permohonan / surat perjalanan. Dan yang ini bolak balik, tapi ga pake materai. Di halaman depan tinggal diisi data pribadi komplit, menggunakan huruf kapital semua. Sedangkan di halaman belakang cukup lingkari poin 3 dan tanda tangan di poin 4.

Btw ada 2 jenis antrian: antrian prioritas n antrian reguler. Antrian prioritas dipisah di sbelah kanan dan dibatasi kuota sejumlah 30 orang/hari. Yang masuk dalam kategori prioritas ini adalah balita, manula di atas 60 tahun, ibu hamil, orang sakit, penyandang disabilitas, dan orang berkebutuhan khusus.

Ambil nomor antrian dimulai pukul 07.30 dan otomatis berhenti pukul 10.00. Ngambilnya pake mesin dan caranya kita tinggal enter nama panjang kita sesuai KTP. Kalo ga ngerti ato males ngetik ato udah rabun dekat, tenang aja, ada petugas yang sengaja jaga di samping mesin buat bantu ngambilin nomor antrian, caranya kalian tinggal serahin KTP kalian ke si petugas.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul 7.30, maka yang duluan bisa ambil nomor antrian dari mesin adalah mereka yang mengantri di antrian prioritas. Baru yang reguler. Waktu itu saya dapat nomor antrian 2-076 pada pukul 08:24:51.

Btw, jangan harap bisa dapet nomor antrian kalo persyaratan ga komplit, ato pake sendal jepit, ato mewakilkan orang lain (si pemohon harus datang sendiri), ato ada beda data. Karena ada petugas yang memeriksa semua berkas sebelum kita ambil nomor antrian.

Btw, apa yang dimaksud beda data? Nah, misalnya nama panjang di akte lahir atau ijazah berbeda dengan nama panjang di KTP atau KK. Meskipun cuma beda 1-2 huruf, bahkan beda spasi sekalipun (misal “Rahmawati” dan “Rahma Wati”. Hal ini sayangnya terjadi di nyokap bokap gue. Nama tengah bokap gue di paspor lama beda dengan yang di KTP, KK, n buku nikah. Pihak Imigrasi Jakarta Timur ga berani urus, kecuali bokap bisa bawa akte lahir atau ijazah yang namanya sama dengan yang di paspor. Ya lucu. Padahal dulu pas bikin paspor pertama kali di Imigrasi Jakarta Selatan pakenya ya KTP, KK, n buku nikah. Jadi kesalahan memang pada petugas Imigrasi Jakarta Selatan yang salah ketik. Di nyokap juga sama. Akhirnya nyokap bokap ga jadi ngurus. Bokap langsung ngantor dan nyokap nungguin gue ngurus paspor gue.

Tips buat kalian yang mau bikin paspor baru (bukan perpanjangan) tapi ada beda nama di KTP, KK, akte lahir / ijazah / buku nikah. Bikin PM1 dulu alias surat pernyataan di kelurahan (cara ngurusnya ke RT dan RW dulu, baru ke kelurahan). Tapi kalo untuk perpanjangan, ga perlu bikin PM1 dari kelurahan. Cukup urus perpanjangan paspornya di kantor imigrasi tempat bikin paspor lama, dengan membawa persyaratan yang sama yang dibawa waktu bikin paspor lama. Seperti nyokap bokap gue. Mereka ga bikin PM1, tapi langsung urus biasa di kantor Imigrasi Jakarta Selatan, karena dulu paspor yang lama bikinnya di sana juga. Btw paspor lama gue juga bikinnya di Jakarta Selatan.

Balik lagi ke topik awal.

Setelah dapet nomor antrian, kita masuk ke kanan trus ada ruangan kaca2 di situ. Duduk lagi deh di dalem situ. Nunggu nomor antrian dipanggil.

Ketika nomor kita dipanggil, langsung tunjukkin semua berkas ke petugas di balik meja yang ada di foto di atas. Kebetulan pas di sini gue dapet petugas ibu-ibu yang super ramah n baik, bahkan manggil gue pake “sayang”. Serius, petugas yang lainnya, dari depan sampe belakang, dari awal sampe akhir, galak semua n kurang senyum. Mungkin kebetulan aja gue ketemunya sama yang galak2 hehe.

Nah di sini semua kelengkapan berkas kita akan diperiksa, plus biasanya ditanyain “Mau ke mana?”. Kalo berkas udah komplit n ga ada masalah, nanti semua berkas kita itu akan dimasukkan ke dalam map kuning. Nomor antrian yang kita dapet di depan tadi bakal dicekrek di bagian depan map. Oya, kalo pengen bikin e-paspor, bilang di sini sama petugasnya. Ntar dia ngasih tanda di dalam mapnya. Selesai dari situ, kita naik ke lantai dua. Duduk lagi. Nunggu nomor antrian kita dipanggil lagi.

Gue mulai duduk ngantri di lantai 2 pukul 09.20. Gue lupa ada berapa loket di situ, tapi waktu itu yang buka ga semua, cuma 6 loket.

Biasanya kalo udah gini cepet nih ngantrinya. Kan cuma dicek berkas, wawancara, foto, n scan sidik jari doang. Tapi waktu itu gue herannya kok banyak orang yang duduk lagi di bangku antrian setelah maju dipanggil. Padahal kan ini sistemnya udah OSS (One Stop Service) yaitu wawancara n fotonya jadi satu.

Mbak2 yang duduk di sebelah gue termasuk yang duduk lagi setelah maju. Padahal doi nomor 12. Gue mah apa atuh nomor 76. Jam 9.52 aja masih nomor 16. Beberapa menit setelah itu si mbak2 sebelah gue ini dipanggil namanya jadi dia maju lagi untuk yang kedua kalinya. Sekitar 5 menitan dia di situ. Eh tapi balik lagi ke bangku. Trus dia cerita kalo sistemnya lagi lemoooott parraaahhh makanya dari tadi dia juga belom selesai. Eh bener aja, jam 10.11 tau2 ada pengumuman kalo sistem pelayanan terpadunya lagi ada masalah. Tapi gue tetap bertahan. Sampe jam 10.41 tapi sistemnya masih lemot jugaaakk. Yaudah lah yaa… Gue langsung ke bawah lagi aja n ngajak nyokap makan di kantin.

Jam 11.45 gue balik ke lantai atas. Ternyata sistem udah normal n waktu itu antrian udah nomor 59. *dikit lagi horeee*

Jam 11.51 udah nomer 62. *asiiikk*. Tapi tiba2 beberapa loket masang papan bertuliskan ISTIRAHAT. *mulai nangis*

Tepat jam 12.00. Nomor antrian terakhir adalah 63. Para petugas udah mulai keluar. Gue hampir sedih tapi tiba2 ada petugas dengan suara cemprengnya ngasih pengumuman (tanpa toa wkwk) bahwaaaaa selama jam istirahat mereka akan tetap buka 2 loket, yaitu loket 2 dan loket 6. Mereka juga mempersilahkan istirahat para pengantri kecuali yang pegang antrian nomor 64 sampai 90. *ALHAMDULILLAAAHH*

Sekitar jam 12.40 nomor gue akhirnya dipanggil juga. *yeeaaayy*. Dan gue ke loket 6. Langsung disambut petugas bertubuh subur yang lupa cara senyum huhu. Semua berkas asli n fotokopi gue diperiksa sama dia. Nah, karena di surat permohonan gue ga nyantumin pekerjaan (karena emang gue masih nganggur), selain nanya gue mau kemana, doi juga nanya pekerjaan gue apa. Gue dengan polosnya bilang masih cari kerja (emang kenyataannya begitu). Trus dia agak curiga, “nyari kerja?”. Yah gue ngerti sih, imigrasi kan takut orang2 macam gue bakal kabur jadi TKI ilegal haha. Untungnya, gue terselamatkan oleh ijazah S1 asli gue *horeee*. Mungkin pikirnya ga mungkin lulusan ITB jadi TKI. Petugas yang ini bilang kalo e-paspor jadinya sebulan. Kaget juga gue. Ga pernah gugling sebelumnya sih hihi.

Habis itu pindah ke petugas yang bagian moto2. Lagi2 di situ ditanyain mau ke mana dan status pekerjaan. Kali ini nanyanya lebih komplit. Gue lulusan universitas apa, jurusan apa, angkatan berapa, wisuda di bulan n tahun berapa. Trus selama ini ngapain aja. Gue jawab jujur semua dan gue bilang selama ini ya gue bantuin bisnis keluarga. Btw itu semuanya dicatat sama petugasnya. N setiap ditanya mau kemana gue jawabnya mau umroh sama keluarga.

Setelah selesai ditanya macam2 demi keamanan dan nama baik negara tercinta Indonesia, foto, dan scan seluruh sidik jari tangan, si petugas ini ngeprint kode pembayaran paspor di selembar kertas A4 untuk kita. Ini kertasnya jangan sampe ilang, karena ntar dipake buat ngambil paspor. Kalo petugas yang ini sih bilangnya e-paspor jadinya 14 hari kerja.

Selesai sudah acara di kantor imigrasi. Waktu itu tepat jam 1 siang. Pulang dari situ, gue langsung ke bank BNI deket tempat gue tinggal. Tinggal kasih kode pembayarannya ke teller dan kasih uang Rp655.000. Done! Ingat, bukti pembayarannya jangan sampe ilang yaa! Karena ntar dipake juga buat ngambil paspor.

Iya betul, untuk biaya e-paspor adalah Rp655.000. Kita dikasih tenggat waktu untuk bayar selama 7 hari sejak hari wawancara. Trus cara menghitung 14 harinya adalah hari pertama dimulai sehari setelah kita melakukan pembayaran. Misal gue bayar tanggal 24 Maret, maka hari pertama adalah tanggal 25 Maret. Sabtu, Minggu, dan tanggal merah ga dihitung ya.

Jam pengambilan paspor di kantor Imigrasi Jakarta Timur adalah dari jam 10 pagi sampai jam setengah empat sore. Trus kalo sampe lebih dari sebulan lo ga ambil paspor, lo ga bakal bisa ngambil lagi alias hangus. Kalopun lo mau bikin lagi dari awal, harus melakukan “pembatalan paspor” dulu. Ribet kan?

Buat elo yang punya e-paspor juga harus hati2. Jangan ketekuk2. Kan di sampulnya yang tebal itu ada chip-nya. Terutama buat yang mau pergi umrah/haji, kasih tau ke agennya kalo itu e-paspor. Soalnya kan travel agen suka asal ngestaples sampul paspor. Bisa rusak ntar chip-nya. Harus urus lagi deh dari awal kalo rusak. Malesin kan?
3 APRIL 2017

Sekarang kronologis ngurus paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Kali ini gue cuma nemenin nyokap bokap aja. Kami datang skitar jam 6 pagi. Antrian di sini lebih tertib n lebih cepat dibandingkan di Jakarta Timur. Petugasnya juga ramah semua, malah ada yang lawak. Ini foto pas antri di parkiran. Belum dikasih nomor antrian. Belum dikasih lembar surah permohonan juga.

Sama seperti di Jakarta Timur, nomor antrian mulai dibagikan pukul 7.30. Tapi jam 7.20 kami sudah dipersilahkan naik ke lantai 2 secara tertib dan sesuai antrian. Di lantai 2 ini ada dua petugas di balik meja yang bakal meriksa kelengkapan berkas pemohon, sekalian ngasih lembar surat permohonan dan map warna pink. Jangan lupa bilang ke petugasnya kalo kalian pengen bikin e-paspor, nanti mapnya bakal dicap. Di sini, ga pake surat pernyataan bermaterai seperti yang ada di Jakarta Timur. Dan di sini juga kita dikasih nomor antrian. Harap antri di line yang sama kalo kalian masih dalam KK yang sama.

Bokap gue dapet nomer 65 dan nyokap nomer 67. Tinggal duduk sambil nunggu nomernya dipanggil. Jangan lupa diisi yaa lembar surat permohonannya (yang bolak balik itu). Ga usah pake materai kok.

Di lantai 2 ini emang khusus ngelayanin kita para WNI yang ngurus paspor. Kalo di lantai 3 untuk melayani WNA. Di lantai 4 adalah kantor TU. Begini suasana di lantai 2:

*yang di atas ini loket n bangku tunggu untuk yang mau ambil paspor*

Sekitar jam 10.20, nyokap bokap kelar juga alhamdulillah tanpa masalah.

Oiya, untuk ngambil paspor di sini cuma dari jam 1 siang sampai jam 4 sore yaa.

Persyaratan ambil paspor:

  • KTP asli.
  • Bukti pembayaran paspor.
  • Lembar kode pembayaran yang dikasih waktu wawancara.
  • Datang dan ambil sendiri. Kalo ga bisa, boleh diwakilkan dengan surat kuasa bermaterai dan KTP asli si pemohon paspor. Tapi kalo yang mewakilkan itu masih dalam satu KK yang sama dengan si pemohon paspor, maka ga perlu pake surat kuasa.
  • Tidak menggunakan kaos oblong dan/atau sandal jepit.

Sekian dari gue. Semoga bermanfaat. Semoga bisa membantu. 🙂

Leave a comment »

My Poem: “Hujan”

### HUJAN ###

Hujan selalu mengingatkanku padamu.
Aneh. Ya. Karena kau aneh.
Terkadang kau merindukan hujan, layaknya rerumputan di savana.
Terkadang kau gembira ketika hujan datang, seakan kau tak pernah melihat hujan sebelumnya.
Namun juga terkadang kau membenci hujan, hujan yang deras, hujan yang turun setiap hari, yang tak pernah kau rasakan.
Ah, mungkin kau hanya iri saja.
Karena hujan menjumpaiku hampir setiap hari, sedangkan kita belum tentu bisa berjumpa.

Kali ini pun, hujan turun lagi.
Aku hanya tersenyum mengingatmu.
Padahal, hujan tak pernah menahanmu bersamaku.
Padahal, tak semua kenangan tentang dirimu itu indah.
Sama seperti hujan, yang tak selalu indah, yang tak selalu menghadirkan pelangi di kala dia pergi.

******************************

Jehan Eldira Islamy

Jakarta, 28 Maret 2017

Leave a comment »

Pengalaman Merawat Wajah

Yoyoy!

Kali ini gue mau sedikit review n sharing pengalaman aja tentang perawatan wajah.

Jaman gue kuliah dulu di Bandung, kulit gue yang tadinya item ala2 India Punjabi bisa berubah jadi putih. Ya putih jowo gitu lah aka kuning langsat, bukan putihnya Asia Timur. Padahal gue ga pernah pake krim wajah apapun, ga pernah luluran, ga pake whitening handbody, dsb. Soalnya masih jaman tomboy sih (sekarang udah insyaf wkwkwk). Mungkin karena di Bandung itu air n udaranya yang seger. Air di Jakarta juga bikin bersih sih (dulu rumah gue di Jakarta), cuma teriknya matahari bikin kulit agak gosong (juga bikin flek di wajah nyokap).

Belum genap setahun setelah gue lulus kuliah, gue pindah rumah ke Jogja. Yak, kota yang terkenal dengan kedekilan orang2nya. Tadinya gue pikir karena orang2nya aja yang males merawat diri. Tapi ternyata gue salah besar!

Air di Jogja cukup bersih meskipun ga se-oke Bandung. Tapi panas teriknya matahari ini yang bikin kacau. Panasnya bukan cuma bikin cepet gosong, tapi bikin kulit jadi dekil n kering. Gue sebenernya dari dulu paling males pake handbody, tapi selama gue tinggal di Jakarta n Bandung, kulit tangan n kaki gue ga pernah kering. Tapi di Jogja sini ya Allah pada bersisik kulit gue kalo ga dikasih handbody haha. Eee jangankan kulit yaa, wong rambut gue yang hitam legam berkilau bak bintang iklan shampoo aja jadi sedikit agak coklat kayak anak layangan.

Gue pindahan ke Jogja akhir April 2016. Waktu itu, gue pake skincare dari ERHA, udah sejak Desember 2015. Seinget gue, udah 3 kali kontrol gitu. Terakhir kontrol bulan Mei 2016 dan tetep di Jakarta, tepatnya di Erha daerah Tebet. Kebetulan waktu itu ke Jakarta buat nengokin kakak ipar yang lahiran.

Krim Erha gue biasanya bisa gue pake selama 5-6 minggu. Gue masih inget waktu lebaran 2016 muka gue masih putih. Cumaaaaaaa….

Nah, ada cumanya nih.

Setiap gue kontrol di Erha, dokternya selalu ngasih resep obat krim yang berbeda2. Dari beberapa kali ganti krim, yang paling cocok hasilnya di muka gue adalah resep yang paling pertama. Sayangnya, makin lama makin ga cocok. Muka emang tetep putih, tapi kering n kusam. Nah lho, putih tapi kusam. Aneh kan. Mana krimnya pahit banget pula. Rasanya teraniaya banget kalo pas lagi naik motor trus hujan. Udah keujanan, mulut n lidah pahit banget pula huhu. Jadinya setelah lebaran pas krimnya habis, gue ga balik lagi ke Erha.

Gue rehat ga pake krim apa2 sekitar sebulanan. Muka gue perlahan menggelap deh (soalnya kemana2 naik motor n ga pernah pake sunblock juga). Trus pertengahan Agustus 2016 gue nyoba Navagreen (karena diajak kakak ipar trus gue tergoda haha). Tapi gue cuma ngabisin krim sekali aja trus ga balik lagi. Karena gue ngerasa ga ada perubahan yang berarti. Emang sih kulit udah ga kering2 amat, dan ga kusam2 amat. Tapi kulit wajah gue belum balik normal. Emang dasar ga sabaran bin kesel jadi gue ga lanjutin pake Navaagreen.

Setelah lepas dari Navaagreen, gue istirahat dari krim wajah selama kurang lebih 3 minggu. Berhubung gue pengangguran, jadi gue punya waktu lebih buat ngurusin muka jelek ini. Gue rajin maskeran pake madu murni asli, dan seminggu 2x masker madunya gue tambahin gula pasir. Fungsinya untuk scrub. Ga cuma masker madu, gue juga pake minyak zaitun murni buat maskeran. Dan kalo ada tumbuh jerawat, cukup gue olesin pake sayatan bawang putih (ini pedih banget gilak, lo kudu sedia kipas). Bisa dioles sehari 2 ato 3 kali.

Hasilnya? Mendingan lah. Tapi ya namanya cara tradisional, ga mungkin hasilnya keliatan jelas hanya dalam waktu 3 minggu.

Ga sabar lagi deh gue. Akhirnya gue beli krim Wardah. Sama mbak2nya disaranin pake seri Lightening yang Step 1 dulu. Ini gue belinya seinget gue akhir Desember 2016 deh. Tapi gue pakenya kurang dari 3 minggu aja trus ga lanjut lagi. Hasilnya lama n ga signifikan. Gue tadinya mikir mau ngabisin aja trus ganti yang Step 2 trus abisin lagi n ganti yang Secret White. Pasti dari yang dosis rendah dulu ke dosis tinggi kan. Tapi kali ini bokap gue yang ga sabar.

Kebetulan, sekitar 2 minggu pemakaian Wardah, gue kena ‘musibah panas’ hiks. Pada suatu hari gue harus keliling muter2 Jogja dengan sepeda motor dalam keadaan cuaca yang super duper panasnya Mashaa Allah. Teriknya luar biasa. Radiasi panasnya terasa nembus baju n jeans sekalipun, bahkan nembus kulit. Gue motoran dari jam 10 pagi sampe jam 2 siang. Gilak, itu kan jam panasnya Jogja. Tapi gue terpaksa karena dapet tugas dari bokap huhu.

Begitu sampe rumah, rasanya mau nangis darah. Kulit gue langsung item dekil ala2 Jogja. Sumpah item, kusam, kering. Terutama wajah n punggung tangan. Padahal udah pake masker n sarung tangan. Gue belum pernah seitem n sedekil itu. Muka gue juga jadi super keriiiing banget. Sampe ga berani pake bedak. Soalnya kalo dibedakin makin keliatan keringnya. Lagipula dengan warna kulit yang begitu jadi ga cocok dengan warna bedaknya. Kesannya jadi kayak pake warna bedak yang 2 tone lebih terang dari warna kulit. Btw gue pake loose powdernya Make Over yang Translucent nomor 1.

Seminggu kemudian setelah tragedi panas itu, bokap gue ke Jogja (beliau masih dinas di Jakarta). Ternyata bokap syok berat melihat penampilan anak gadisnya ini yang sangat jauh berbeda hahaha. Jangankan bokap yang jarang ketemu, lha pakde gue di Jogja aja komen kalo gue jadi item sejak pindah ke Jogja, hiks hiks…

Bokap langsung merasa kasihan n lantas nyuruh gue ke klinik kecantikan terbaik di Jogja. Yah meneketehe apa yang terbaik. Lagian kan krim itu cocok2an. Cocok buat si A, belum tentu cocok buat si B.

Setelah beberapa hari browsing, baca2 review, tanya sana sini, akhirnya gue memutuskan akan mencoba MIRACLE. Gue ke Klinik Miracle tanggal 24 Januari 2017. Berarti sekarang udah 2 bulan. Dan alhamdulillah gue cocok pake Miracle. Hasilnya memang perlahan tapi signifikan. Setelah 1 bulan pemakaian, si kusam minggat total dari muka gue. Oiya, gue juga pake Serum White Secret Wardah. Di Miracle gue cuma pake krim pagi n malamnya aja. Sabun muka sih udah lama pake Lightening Scrubnya Wardah.

Sekarang, setelah 2 bulan pake krim Miracle n sebulan pake serum Wardah, muka gue putih n glowing. Gimana dengan jerawat? Gue pake krim apapun tetep aja jerawat pasti nongol dari ssminggu sebelum haid, sampe haid selesai. Gue masih tetep pake bawang putih, plus gue juga pake Tea Tree Oil dari The Body Shop yang buat ngempesin jerawat itu. Jerawat emang cepet kempes, tapi ngilangin merah bekas jerawatnya itu yang agak lama.

Sekarang banyak orang yang bilang muka gue putih mulus. Mulus? Ga juga sih. Karena gue punya banyak acne scars alias bopeng alias lubang2 bekas jerawat di pipi kanan kiri gue. Cuma mungkin sekarang entah hanya tersamarkan ato emang menipis bopengnya. Sbenernya kalo cuma krim sih ga bisa nyamarin apalagi ngilangin bopeng. Cara yang gue lakukan adalah dengan masker madu murni yang ditambah gula pasir sebagai scrub. Juga dengan microdermabrasi di salon kecantikan. Kebetulan di deket rumah ada salon kecantikan dengan harga terjangkau, namanya klinik Alia. Gue facial microdermabrasi paling cepet 2 minggu sekali n paling lama 4 minggu sekali. Eh bisa lebih ding, soalnya tergantung isi dompet hahaha. Sampe sekarang totalnya kayaknya udah 5 kali gue treatment microdermabrasi. Sekali di Navaagreen n sisanya di Alia.

Gue pengen banget bisa punya pipi mulus n akhirnya gue browsing tentang dermaroller yang katanya cara paling ampuh buat ngilangin bopeng. Gue liat di instagram banyak jasa home service kecantikan di Jogja. Tapi gue ngeri ah. Meskipun harga lebih miring. Jadi gue cari yang udah ada tempatnya n bagus reviewnya. Dapatlah gue 2 klinik oke. Yaitu ZAP dan 4U. Harga dermaroller di ZAP 500rb/treatment. Trus mereka juga punya face toning dengan harga 250rb/treatment. Review sih bagus2 yaa apalagi yang ngasih testimoni banyak yang dari kalangan artis. Mungkin kapan2 gue akan coba face toningnya. Tapi untuk dermaroller kayaknya gue pilih 4U aja soale lebih deket rumah hihi.

Inshaa Allah bulan depan gue mau coba dermaroller di Klinik 4U di daerah Monjali. Kalo cuma sekali sih 480rb. Tapi ada paket 875rb untuk 4 kali dermaroller. Trus untuk kasus bopeng gue butuh berapa kali treatment? Ya belom tau soalnya belom konsul dokternya. Habisnya sekarang lagi bokek dan untuk konsul dokter di 4U dikenai biaya 85rb.

Kalo treatment dermaroller bisa sukses bikin muka gue mulus, gue bakal update di blog gue. 🙂

1 Comment »

Jeruk “Kino” Pakistan

​Jeruk Kino Pakistan

Dulu waktu masih tinggal di Jakarta, sebelum kino masuk Carrefour, saya udah sering liat di salah satu toko buah di Condet, Jakarta Timur. Tapi ga pernah beli. Dan di toko itu jualnya cuma 1 macam buah aja tergantung musimnya.

Beberapa hari lalu saya mampir ke swalayan Mirota di deket rumah. Trus ngeliat si cantik ini. Saya nyoba beli 3 buah harganya skitar Rp9800. Iya, sekali2 nyoba lah. Padahal semua jeruk sama aja ya.

Dari bodinya, dia sempurna. Bentuk bulatnya oke, warna oren segar oke, glowing kayak kulit artis. Pokoknya secara fisik dia bikin envy jeruk2 lainnya.

Waktu dikupas emang ga segampang ngupas jeruk lokal, karena kulitnya tebal, ga kayak jeruk lokal.

Dan kulitnya seolah2 ga mau lepas dari daging buahnya. Jadi setelah dikupas bagian yang warna putih2 itu masih nempel banyak di daging buahnya. Kalo yang ga suka makan putih2nya itu sih jadi harus ngupas 2x. Btw sbenernya bagian putih2 itu ga perlu dibuang kok karena bagus buat pencernaan.

Isi daging buah ga ada bedanya kayak jeruk mandarin. Ga ada something special.

Kalo soal rasa, jeruk kino emang seger. Karena rasanya perpaduan antara manis n asam. Jeruk ini ga cocok buat kamu yang ga suka rasa asam ato yang punya asam lambung yaa.

Jeruk ini cocok buat orang yang suka rasa campuran manis-asam menyegarkan. Cocok juga buat cewek2 Indonesia yang tergila2 sama cowok Pakistan ato fans fanatik India & Pakistan. Hahahaha.

Beli lagi? Yes. Kalo ada duit. Haha.

Leave a comment »

My Poem: Yang Tak Pernah Ada

### YANG TAK PERNAH ADA ###

Aku selalu percaya padamu, bahkan ketika kau berbohong.

Aku selalu menunggumu, meskipun kutahu kau tak ‘kan pernah datang.

Aku selalu kembali padamu, walau berkali-kali kau hempaskanku.

Aku selalu mendampingimu, biarpun kau lupa padaku.

Aku dan harga diriku, yang tak pernah ada.

……….

Jehan Eldira Islamy

Yogyakarta, 12 Maret 2017

Leave a comment »

Orang2 yang ngeliat keponakan gue tapi belom pernah liat kakak gue: “Wah, mirip bundanya ya!”

Orang2 yang ngeliat keponakan gue dan udah kenal kakak gue: “Wah, mirip ayahnya ya!”

Orang2 yang ngeliat keponakan gue dan udah kenal bokap gue: “Wah, mirip akungnya ya!”

Kenapa ga pernah ada yang bilang: “Wah, mirip tantenya ya!”

*ceritanya pengen* 😂😂😂

Leave a comment »

I Can Feel You, AHY.

I can feel you, mas AHY.

Meninggalkan passion demi mewujudkan keinginan sang ayahanda, namun gagal.

Saya sangat mengerti kondisi hati mas AHY saat ini. Sangat sedih, namun tetap tersenyum pada dunia, bahkan pada keluarga sendiri sekalipun. Marah, marah pada diri sendiri yang tak mampu mewujudkan hasrat ayahanda, dan tak bisa marah pada yang lain. Kecewa, kecewa pada diri sendiri yang meninggalkan passion yang berujung kegagalan.

Bertahanlah, mas AHY. ALLAH masih bersama kita. DIA tidak sedih pada kita yang sudah berusaha namun gagal. DIA tidak marah pada kita yang berusaha berbakti pada orang tua namun gagal. DIA juga tidak kecewa pada kita yang sudah berani mengambil resiko.

Anggap saja ini semua memang takdir dari-NYA. Dan, percayalah, suatu saat nanti kita pasti bisa bangkit kembali, mas. Entah bagaimana caranya. ALLAH sudah mengatur segalanya.

Tetaplah percaya kepada-NYA. Berserah kepada-NYA. Dan tetaplah berbakti dan hormat kepada orang tua, dalam kondisi hati yang seperti apapun.

Leave a comment »

Valentine?

I don’t care about the day of love called Valentine.

I will not ask you to buy me a bouquet of flowers or chocolates.

Yesterday, today, tomorrow, and for the rest of my life…

I ask nothing from you but your last name to be put on my kids’ names.

I love you.

I love you and cats.

Leave a comment »

Fenomena Pamer di Media Sosial

FENOMENA PAMER DI MEDIA SOSIAL

“Heh! Situ nyindir saya? Saya ini bukan pamer ya! Justru saya ini membagikan kisah2 inspirasional saya, supaya bisa jadi contoh yang baik untuk masyarakat. Kalo saya ini pamer, ga mungkin dong banyak yang nge-like postingan2 saya?! Mikir! Wong hidup, hidup saya, kenapa situ yang komen?! Sirik aja sih! Haha.. kasihan!”

Krik.. krik.. Padahal justru dia yang harus dikasihani.

Pernah ga kalian menjumpai orang yang suka pamer di dunia maya (apalagi di dunia nyata ya hihi), entah kita kenal ato ga, tapi saat dinasehati atau dikritik, malah marah dan membela diri, dan menuduh kalau kita hanya iri saja. Contohnya seperti monolog di atas. Pasti jawabannya ya.

Bandingkan dengan orang yang hatinya memang baik dan mulia, saat dinasehati atau dikritik, justru akan mengucapkan terima kasih dan berusaha tidak mengulangi perbuatannya lagi. “Astaghfirullah.. Iya ya, kamu benar.. Status saya kemaren malah jatuhnya jadi riya.. Ya Allah, kenapa saya jadi orang yang sombong seperti ini? Aduh, saya jadi malu banget nih. Segera status saya itu akan saya hapus. Makasih banyak lho ya! Tetap saling mengingatkan yaa..”. Aduhai, terdengar adem bukan?

Abad ke-21 ini memang makin canggih, dan manusia semakin bebas berekspresi. Tapi sayangnya tidak semua manusia itu berbekal ilmu dan akhlak yang mencukupi. Coba lihat jaman sekarang anak2 TK dan SD pun udah pada bawa gadget, sampai2 mereka harus pakai kacamata karena matanya rusak, tapi orang tuanya malah bangga. Anak2 sekarang lebih suka bermain gadget daripada bermain di luar bersama teman2nya. Sangat berbeda dengan jaman saya kecil dulu yang suka main petak umpet, kejar2an, lompat tali, dakon, sepedahan, dll, sampai rasanya paling malas berada di rumah karena ga ada teman bermain. Jaman dulu, meskipun mainnya bikin kotor badan dan baju, tapi bisa bikin bangga orang tuanya, “Lihat, anak saya lincah, enerjik, dan sangat sehat.”. Kalo jaman sekarang kan, “Lihat, anak saya sangat pandai menggunakan tablet!”. Padahal belum tentu anaknya itu menggunakan gadget untuk hal-hal yang berguna, apalagi jika tanpa pengawasan orang tua.

Itu yang masih bocah. Lalu bagaimana dengan yang orang dewasa? Umur memang udah ga anak2 lagi, malah mungkin udah punya anak, tapi kelakuan bisa jadi masih kayak anak2. Mulai dari curhat ala2 cari perhatian di medsos seakan2 manusia paling terzolimi sedunia (kadang sampe aplot foto lagi nangis segala lho ato pura2 sayat tangan pake silet), bikin status sok alim padahal cuma buat menutupi kebusukannya, bikin berita palsu atau hoax untuk keuntungan semata atau cuma pengen liat masyarakat berantem n perang sodara, sampe memperbudak diri dengan kemewahan duniawi yang diumbar di medsos. Semua ini karena fasilitas yang mudah didapatkan plus kebebasan berekspresi yang menjadi2. Smartphone udah banyak yang murah, dicicil pula. Internet biarpun lambat tapi banyak juga paketan yang lumayan murah, belom lagi kalo pas ada wifi gratis. Semua orang bebas nulis apapun dimanapun, ditambah dengan foto2 yang entah mereka jepret sendiri ato ambil dari sumber lain.

Saya pernah melihat akun seorang wanita muda (kebetulan bukan friend list saya sih), yang beruntung dapet suami kaya. Setiap kali suaminya itu membelikan dia barang mewah, selalu difoto (dan price tag nya sengaja ga dilepas, malah blak2an diliatin) dan diaplot di FBnya (udah gitu settingannya dibikin public). Dari jam tangan belasan juta sampai tas puluhan juta. Captionnya dia tulis semacam dia bersyukur seolah2 dia orang yang ‘nerimo’, tanpa ada kalimat apapun yang menyiratkan pamer atau kesombongan. Captionnya sih memang oke, tapi karena fotonya yang berlebihan, jadi sama aja pamer n sombong. Banyak orang yang komen mengkritik tapi dia membela diri dan kadang bawa2 agama. Sok suci gitu.

Ada juga bude2 yang kebetulan memang dari keluarga kaya raya, dan nikah sama WNA pula (tapi ga ganteng kok. Kalian kalo denger kata “bule” pasti pikirannya ganteng kan?!). Nama akunnya dihiasi dengan gelar kebangsawanan Jawa. Entah apa tujuannya. Mungkin supaya dihormati orang. Padahal, belom tentu gelarnya asli. Karena dulu pernah lagi rame2nya di keraton Jogja dan Solo, gelar kebangsawanan dijadikan bisnis. Siapapun bisa beli, bahkan yang bukan keturunan Jawa sekalipun. Ikut pamer ah, terus terang saya juga punya gelar kebangsawanan, tapi untuk apa diumbar? Karena saya tidak gila hormat. Lagian juga saya malu, punya gelar keputrian kok kelakuan ga feminin blas, hahaha. Nah balik lagi ke si bude ini. Btw bukan bude saya beneran lho, wong saya juga ga kenal, ga ada di friend list saya juga. Si bude ini pergi kemanapun selalu check in di FB, pokoknya semua orang harus wajib kudu tau semua kegiatan dia. Bahkan kalo perlu pas dia lagi beol di toilet emas pun harus difoto dan aplot di FBnya, siapa tau e*knya juga emas. Semua isi rumahnya yang mewah juga dipajang di FB (tapi mewahnya ndeso dan berantakan kalo menurut saya). Padahal, masih banyak orang yang rumahnya lebih wow dari dia tapi ga pernah pamer sama sekali. Semua isi garasinya juga dikeluarin di FB, seakan2 dia orang kampung norak yang belom pernah liat mobil. Padahal produsen mobilnya ga cuma produksi buat dia doang. Semua caption atas foto2nya juga udah bukan tersirat kesombongan lagi, tapi emang udah blak2an sombong. Semua statusnya pun sama. Tapi lagi2, setiap ada kritikan, dia merasa seolah2 orang yang paling terzolimi sedunia. Hatinya semakin tinggi karena di FBnya juga masih banyak orang yang nge-like postingan2nya dan memuji2 serta membela di komen. Nah para pengikutnya ini kalo saya pribadi lihatnya sama seperti pemujanya Rizieq Shihab. Ga usah dijelasin lah ya, kasian ntar mereka malu.

Dua contoh di atas adalah contoh pamer sesuatu yang emang mereka punya. Celakanya, banyak juga orang di luar sana yang sombong dan pamer atas hal2 yang sebenernya ga mereka punya alias fiktif aka membual. Dosanya dobel ini mah. Pamer pergi ke sana ke situ padahal mah enggak, pas diminta bukti malah kirim foto yang nyomot punya orang. Pamer punya usaha ini itu, pas ditanya bukti, langsung ngaku udah tutup. Pamer punya barang ini itu, ada fotonya juga, eh ternyata punya orang lain. Nggilani. Mesakke.

Para pengikut orang2 tukang pamer biasanya membela dengan mengatakan, “Tapi dia orang baik kok..”. Baik? Hmm.. Sbenernya, kalo dipikir pake logika, apakah orang2 yang suka pamer (apalagi kalo dikritik malah marah) apakah hatinya benar2 baik? Mari kita kroscek dulu apa aja siiiihh tanda2 hati yang kotor? AWAS! Jangan2 ada di kamu lho! Naudzubillah..

  1. Selalu bangga dengan diri sendiri.
  2. Angkuh, sombong, dan memandang hina orang lain.
  3. Suka mengumpat dan membuka aib orang lain.
  4. Gelisah walaupun tak ada masalah.
  5. Senang melihat orang lain susah dan lebih rendah dari dirinya.
  6. Tidak amanah dan ingkar janji.
  7. Lidah yang tajam; tidak menjaga hati orang lain.
  8. Menyampaikan ilmu dengan riya’.
  9. Berlagak alim semata-mata untuk dipuji orang.
  10. Berpakaian bagus hanya untuk dipuji.
  11. Suka menyakiti hati orang dengan sindiran.
  12. Menganggap diri lebih hebat daripada orang lain.
  13. Solat yang tidak khusyuk.
  14. Durhaka kepada kedua orang tua.
  15. Cinta duniawi dan materialistic.
  16. Kagum terhadap diri sendiri. Merasa diri baik dan cerdas.
  17. Mudah berprasangka buruk terhadap orang lain.
  18. Selalu mengeluh dan tidak ridho dengan suratan takdir.
  19. Suka menjatuhkan dan memijak orang dengan kuasa yang ada.
  20. Membesar-besarkan masalah sepele.
  21. Menggunakan agama dan dengki atas perkara duniawi.
  22. Pendendam.
  23. Mementingkan diri sendiri dalam semua hal.
  24. Suka berpura-pura.
  25. Nafsu dan syahwat tidak terbendung.
  26. Tamak.

Semua sifat di atas adalah sifat Mazmumah (keji). Mari bermuhasabah diri. *diambil dari Fan Page FB “Kisah Zakat Malaysia” dalam album “Tanda-Tanda Hati Kotor”.*

Poin nomor berapa aja nih yang ada di kamu? Apa? BANYAK?!

HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA….. sama, saya juga. ( ._.)

Berhubung sekarang kita lagi ngebahas tentang pamer, sombong, riya’, dan sejenisnya, kira-kira sifat mana aja ya yang pasti melekat di orang yang suka pamer? Hmm.. Kalo menurut saya sih yang pasti banget itu nomor 1, 2, 8, 9, 10, 12, 15, 16, 26. Kalo yang udah akut biasanya ditambah dengan nomor 3, 5, 7, 11, 17, 19, 23, 24. Waduh, udah berapa tuh? Sembilan ditambah delapan jadi TUJUH BELAS sifat diembat sekaligus! Kalo lebih kronis lagi ya pastinya lebih banyak lagi, malah mungkin bisa semua. Padahal, sudah jelas ada sebuah hadist shahih yang berbunyi, “Tidak akan masuk surge orang yang terdapat sebesar biji zarrah kesombongan dalam hatinya.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu). Biji zarrah ya kurang lebih segede ketumbar lah. Anggep aja segede upil.

Celakanya nih, orang yang sombong, riya’, dan ujub itu ternyata dosanya lebih besar daripada dosa maksiat. Kenapa coba? Hayooo… ada yang tau? Gini nih. Kalo orang yang berbuat maksiat, itu dia dalam keadaan sadar, dan dia tau kalo apa yang dia lakukan itu salah. Entah mau tobat ato ga. Entah mau ngulangin lagi ato ga. Intinya dia sadar dan tau kalo perbuatannya itu ga baik, bahkan tanpa dikasih tau orang lain. Nah, kalo orang yang sombong, riya’, ujub, itu kebanyakan ga sadaaaarrr kalo apa yang dia lakukan itu sudah termasuk sifat sombong/riya’/ujub. Bahkan kalo ditegur ato dinasehatin orang pun sia2 aja. Coba deh kalian ingat2 lagi, setiap kalian nemu orang yang sombong ato pamer sesuatu misal di FB, pasti dia ga terima kan kalo dibilang sombong ato pamer? Eits, ato jangan2 justru kalian yang kayak gitu? Waduh, maaf lho ya, artikel saya ini ga bermaksud menyinggung atau menyindir siapapun, sungguh!

Artikel ini dibuat penulis lillahi ta’ala semata-mata untuk muhasabah diri, dan siapa tau bermanfaat juga untuk khalayak ramai. Saya sepenuhnya minta maaf jika ada pihak yang merasa tersindir, tersinggung, tersakiti, atau marah.

 

“DO NOT CORRECT A FOOL, OR HE WILL HATE YOU.

CORRECT A WISE MAN, AND HE WILL APPRECIATE YOU.”

Leave a comment »