handiramy's Blog

Just a stupid weblog

Konsep Jodoh

on February 3, 2017

Bagaimana sebenarnya konsep jodoh yang sebenarnya? Jika saya yang masih sangat kurang ilmu ini boleh berpendapat, maka akan saya coba jelaskan menurut pengalaman pribadi saya. Meskipun, yaaahh, sampai saat ini saya belum jua bertemu dengan jodoh saya. Ya, saya masih single.

Usia saya seharusnya merupakan usia yang sudah matang untuk mulai membina rumah tangga. Dua puluh enam. Usia dimana semua teman, kerabat, dan saudara selalu bertanya, “Kapan nyusul (nikah)?”, “Sekarang pacarnya siapa?”, dsb. Dan entah mengapa mereka selalu seakan tidak percaya ketika saya menjawab bahwa saya masih sendiri. “Belum ada? Mosok sih? Belum punya 2 kali?!”, seperti itu candaan mereka pada umumnya.

Banyak sekali teman-teman sebaya saya yang sudah pada menikah, hamil, bahkan ada yang sudah hamil anak kedua. Apakah saya merasa iri? Tidak, tapi iya. Loh kok? Maksudnya begini. Tentu saja saya juga berkeinginan untuk segera bertemu dengan jodoh saya, menikah, dan merasakan jadi wanita sempurna: hamil dan melahirkan. Tapi saya tidak pernah merasa iri dan dengki dengan mereka yang sudah duluan menikah. Karena saya percaya sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa, bahwa suatu hari nanti, di saat yang tepat, saya juga akan mengalaminya.

Tapi kapan waktu yang “tepat” itu?

Kalau saya berkaca dari teman-teman saya yang sudah menikah, dan yang akan menikah, saya melihat bahwa mereka adalah sosok yang secara mental, mindset, dan perilaku, sudah tidak kekanakan lagi. Coba bandingkan dengan kalau saya melihat program infotainment di TV, saat mereka menayangkan berita pacarannya artis-artis muda. Setiap saya melihatnya selalu, “Ih, apaan sih..”. Dan saya berkata begitu bukan karena iri lho ya, tapi memang beda feel-nya melihat gaya pacaran artis-artis muda di TV dengan gaya pacaran atau hubungan suami istri teman-teman saya yang sudah dewasa. Jadi, poin pertama di sini, kalau relationship style saya masih seperti bocah-bocah ingusan ya Sang Pencipta tidak akan mempertemukan saya dengan si jodoh.

Kalau kamu tipe yang selalu merengek minta ditemenin pasanganmu terus, ya jangan nikah dulu. Pasangan kita itu bukan bayangan kita yang akan selalu nempel. Dia punya kesibukannya sendiri. Yang penting tetap ada komunikasi walaupun cuma sedikit di sela-sela kesibukan. Saling terbuka juga sangat penting, karena pasangan jadi ga akan mikir yang macam-macam ke kita kalau kita lagi sibuk.

Kalau kamu tipe yang boros dan masih belum mengerti bagaimana memprioritaskan hal-hal penting, masih belum punya rencana jangka pendek dan jangka panjang untuk kehidupan yang lebih baik, masih selalu berharap uluran tangan dari orang lain (khususnya dari orang tua), ya jangan nikah dulu. Jangan sampai urusan anak dan suami/istrimu jadi terbengkalai. Jangan sampai lebih mementingkan hang out bareng teman-teman dan membeli makeup mahal daripada membeli susu untuk anak atau mengobati pasangan (apalagi yang punya riwayat penyakit). Jangan sampai kamu dan pasangan hanya berdiam diri dan hanya menggantungkan hidup ke orang tua atau mertua.

Planning itu penting. Misal kamu seorang artis yang sekali syuting langsung dibayar puluhan juta. Kamu harus mengerti bahwa kamu tidak akan terkenal selamanya. Akan muncul artis-artis baru yang bisa jadi lebih rupawan dan lebih berbakat. Suatu hari nanti kamu tidak akan terpakai lagi di dunia hiburan. Kamu sudah harus punya rencana jangka pendek dan jangka panjang. Misalnya, melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Siapa tahu ijazahmu bisa dipakai untuk nanti kerja kantoran atau apa. Atau kalau otakmu tak sanggup lagi belajar, apalagi jadi karyawan, kamu bisa mulai belajar bisnis. Coba lihat, tidak semua artis jadi sukses ketika mereka sudah tidak terpakai lagi di dunia hiburan. Itu karena mereka tidak bisa memanajemen uang dan waktu, tidak punya rencana jangka panjang, dan hanya tergoda hal-hal duniawi semata.

Kita kembali lagi ke konsep jodoh. Dalam agama Islam (dan saya yakin bahwa ajaran semua agama pasti sama baiknya), dikatakan bahwa perempuan yang baik akan mendapatkan laki-laki yang baik, dan sebaliknya. Ok nih, katakanlah kita sudah cukup matang dan dewasa secara mental, mindset, dan perilaku. Tapi kok belum juga ketemu calon yang baik ya? Banyak yang datang mendekat tapi di hati kok belum ada yang pas ya? Ada yang males solat lah, ada yang kurang ngerti tata karma lah, ada yang ngomongnya jorok melulu lah, dll. Coba deh, kita ngaca dulu. Kita sendiri udah baik belum sih? Kamu pengen punya pasangan hidup yang rajin ibadah, tapi kamu sendiri masih suka malas. “Gue pengen cari imam yang baik, yang rajin solat, supaya bisa ngajak gue solat juga dan gue ikutan rajin deh.”, banyak sekali perempuan yang berkata seperti itu. Menurutmu, yang seperti itu diketawain ga sama malaikat? Hihihi…

Poin kedua di sini adalah, kalau kita pengen dapat jodoh yang baik, ya kita juga harus jadi baik. Karena jodoh itu seperti cerminan diri. Untuk yang belum bertemu jodohnya, masih ada kesempatan nih untuk memperbaiki diri. Misalnya, mulai lebih rajin lagi ibadahnya, lebih ditingkatin lagi rasa tanggung jawabnya, diperbaiki cara berpakaiannya dan tutur katanya, dihilangkan sifat pemarah dan egoisnya, dsb. Kalau kamu berkualitas, kamu juga akan dapat pasangan hidup yang berkualitas.

Poin ketiga, supaya kita lebih cepat bertemu jodoh: banyak berteman, banyak menyambung tali silaturahmi. Siapa tahu jodohmu itu adalah sudaranya temannya teman kerjamu, atau tetangganya mantan supir bapakmu. Kalau diajak ngumpul teman-teman atau saudara yang baik, ikut aja walaupun sebenarnya malas, siapa tahu salah satu dari mereka membawamu lebih dekat ke jodoh. Kalau orang tuamu ngajak ikut ke acara nikahan atau reunian, ikut aja, siapa tahu jodohmu adalah anak atau kerabat dari salah satu teman orang tuamu. Ga ada yang tahu kan? Karena jodoh itu memang misteri.

Poin keempat: jangan terlalu pemilih, jangan cari yang sempurna. Orang yang sedang-sedang saja juga cukup kok, yang penting pas dan baik untuk kita. Kalau kamu nunggu yang rupawan, bodi sempurna bak model, pintar dan kaya (jadi bisa dibanggain), humoris, setia, romantis, dll, wah kapan nikahnya…. Kalau kebetulan berjodoh dengan yang seperti itu ya alhamdulillah, itu namanya banyak bonusnya. Kalau saya pribadi, secara fisik saya hanya minta 1 hal, yaitu tinggi, dan harus tetap lebih tinggi ketika saya memakai heels. Kalau terlalu gendut atau kurus, gampang lah, itu bisa dibentuk, tinggal kasih semangat dan motivasi, hehe.. Kalau wajah kurang enak dipandang, gampang juga lah. Eits, bukan dioplas loh ya, tapi dirawat. Asalkan wajahnya bersih kinclong pasti enak dipandang. Buat kamu para wanita, mana yang lebih kamu pilih? Tampan tapi tak mapan, atau sudah mapan tapi tak tampan?

Mungkin ada poin-poin lainnya lagi, tapi untuk sementara itu dulu yang bisa saya tulis. Jika kalian punya pendapat lain atau mau sharing pengalaman pribadinya, monggo ditulis saja di komen. Saya akan sangat senang jika bisa berdiskusi dengan cara yang menyenangkan.

Semoga artikel ini bisa memberi manfaat, setidaknya bisa menghibur, hehe…

Advertisements

2 responses to “Konsep Jodoh

  1. elkoesoemo says:

    tiba-tiba nemu bahasan yang cocok begini di blog kamu, I feel you. Saya berada di fase yang sama seperti kamu dan rasanya baca ini agak menggelitik hati yaaa hehe.. salam kenal!

    • handiramy says:

      Waa terharu rasanya kalo ada yang bilang ‘i feel you’ 😢😭.. pastinya ga cuma kita yaa hehe..
      Semoga kita berhasil dalam memantaskan diri dan segera dipertemukan dengan jodoh yaa hihi aamiin 😝😝
      Salam kenal juga!! Thanks banget udah berkunjung ke blog ini 😍😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: