handiramy's Blog

Just a stupid weblog

Nenek Misterius di Masjid Salman ITB

on November 17, 2016

​Nenek Misterius di Masjid Salman ITB

Bagi para alumni muslim ITB, mungkin kenangan saat masih menjadi mahasiswa tidak hanya seputar kampus saja, namun juga tentang masjid yang letaknya berseberangan dengan kampus ITB ini, yaitu Masjid Salman.

Begitu pula dengan saya.

Kali ini, saya bukan ingin bercerita tentang kenangan saya saat mengikuti kursus Bahasa Turki di Masjid Salman, ataupun tentang betapa semangatnya saya setiap bulan Ramadhan selalu datang ke sana sebelum maghrib demi mendapat kupon makan malam.

Saya ingin bercerita tentang pertemuan saya dengan seorang nenek, yang tidak saya ketahui identitasnya.

Cerita berawal saat suatu hari saya menjalankan sholat Zuhur di lantai atas Masjid Salman. Selesai sholat, saya merasa sangat haus dan mendapatkan air minum yang saya bawa sudah habis. Lantas saya segera turun ke lantai bawah, ke tempat dimana tersedia banyak bangku dan juga biasanya disediakan teh manis hangat.

Saya mengambil sepatu saya dari rak sepatu lalu segera duduk di sebuah bangku panjang. Saya mulai dengan memakai kaus kaki sebelah kanan. Saya baru akan memakai kaus kaki sebelah kiri ketika tiba-tiba ada suara memanggil saya dari arah depan.

“Neng.. neng..”, sapa seorang wanita tua sambil tersenyum. Beliau duduk di bangku panjang yang letaknya tepat di depan bangku saya.

“Iyaa ibu?”, tanya saya sambil balas tersenyum. Saya berpikir mungkin ibu ini ingin menanyakan sesuatu atau membutuhkan bantuan.

“Panggil saya ‘nenek’ saja, hehehe..”, kata wanita yang mengaku berumur 74 tahun itu (tapi masih terlihat 10 tahun lebih muda).

Sambil mempersilahkan saya melanjutkan memakai sepatu, si nenek bertanya apakah saya mahasiswi ITB, namun dalam bahasa Sunda. Ketika saya terangkan bahwa saya tidak mengerti bahasa Sunda, lalu si nenek seterusnya menggunakan Bahasa Indonesia.

“Semester berapa sekarang, neng geulis?”

Jujur, untuk pertanyaan di atas ditanyakan sekitar 4 atau 5 kali. Sepertinya si nenek sudah mulai pikun.

Beliau mendoakan saya akan menjadi orang yang sukses, serta memberikan nasihat supaya tidak pernah lupa dengan orang tua ketika sudah sukses nanti. Aamiin.

Entah mengapa saya merasa sangat akrab dengan nenek itu. Mungkin karena saya sudah tidak punya nenek. Entahlah. Namun kami bisa mengobrol dengan “nyambung”. Saya tidak ingat kami saat itu membicarakan apa saja, tapi ada satu hal yang masih saya ingat sampai sekarang.

Beliau tiba-tiba menceritakan kisah rumah tangganya.

“Neng, nanti kalau sudah berumah tangga, jangan terlalu cemburuan. Karena api cemburu ga cuma bisa membakar hati, tapi lama-lama bisa menghanguskan rumah tangga juga.”

Saya tertegun kaget. Sebelum ini, tidak ada pembicaraan tentang pacar, keluarga, rumah tangga, atau apapun itu yang berhubungan dengan cinta dan “relationship”. Dan seingat saya, saat itu saya belum lama putus hubungan dengan mantan pacar pertama saya, namun saya tidak menceritakan hal itu kepada si nenek.

“Suami nenek yang sekarang ini bukan suami pertama, tapi suami kedua. Yaa ga seganteng suami pertama sih tapi sayaaaaang banget sama nenek dan anak-anak nenek.”, cerita nenek itu dengan antusias dan sambil bercanda.

“Alhamdulillah ya nek, hehe..”, saya tidak enak ingin menanyakan apa yang terjadi dengan pernikahan pertamanya. Namun tanpa perlu bertanya, beliau pun mulai bercerita lagi.

“Kalo suami nenek yang pertama itu ganteng pisaaaaann. Ga tau kenapa kok mau nikah sama nenek, padahal nenek kan ga cakep ya hahaha..”, beliau tertawa renyah.

“Aah, kata siapa? Sekarang aja masih keliatan cantiknya dan awet muda, apalagi waktu nenek masih muda dulu, pasti lebih cantik hehe..”, saya memujinya dengan tulus.

“Tapi gini neng.. mungkin karena suami nenek yang pertama itu ganteng, nenek jadi cemburuan. Hampir semua perempuan nenek cemburui. Terus nenek jadi mulai suka ngatur dan melarang dia ini itu.

Bla bla bla..

Awalnya sih dia selalu nurut dan ngalah sama nenek. Tapi namanya laki-laki ya, mungkin lama-lama jadi ga tahan juga. Gara-gara nenek dulu suka cemburu buta, kami jadi sering berantem neng. Akhirnya, dia menceraikan dan ninggalin nenek.”

Raut wajahnya mulai berubah. Matanya terlihat sedih mengenang masa lalu, namun bibirnya masih tersenyum. Saya belum sempat memberikan komentar, dan beliau pun melanjutkan curahan hatinya.

“Belum ada setahun, mantan suami saya sudah nikah lagi sama perempuan lain. Hati nenek hancur banget neng waktu itu, karena nenek masih cinta sama dia. Nenek cemburu banget, tapi ga bisa ngapa-ngapain. Nah, waktu itu nenek baru benar-benar sadar bahwa selama ini nenek salah. Karena sifat nenek yang pencemburu, rumah tangga nenek jadi hancur.”

Beliau lantas memberikan nasihat, “Semua perempuan pada dasarnya pencemburu. Itu wajar kok neng. Alami. Tapi percaya deh kata nenek, kalo lagi cemburu, ga usah ditunjukin, apalagi sampe marah-marah. Cemburu buta itu karena bisikan setan loh neng.”

Kisah rumah tangganya dan nasehat itu beliau sampaikan dua kali. Kali ini saya yakin, beliau memang sudah pikun.

Selesai bercerita dan menasehati saya, beliau tiba-tiba bergegas pergi. Saya mencium tangannya. Beliau mengucapkan salam lalu pergi. Saya ingin segera kembali ke kampus tapi saya sempatkan dulu untuk minum teh manis hangat.

Selesai minum teh, saya berjalan kembali ke arah kampus sambil mencari keberadaan si nenek. Karena beliau sebenarnya mengaku sebagai salah satu penjual donat di kawasan Masjid Salman. Namun saat itu setiap penjual donat yang saya temui bukanlah beliau. Mungkin sudah pulang duluan, pikir saya.

Besoknya, saya kembali ke sana. Menjalankan sholat Zuhur, sambil mencari si nenek. Saya cari di dalam masjid, tidak ada. Di halaman masjid, tidak ada. Di taman pun tidak ada.

Berhari-hari bahkan sampai saya lulus pun setiap saya ke sana, saya tidak pernah menemukan nenek itu lagi. Saya juga sudah pernah bertanya ke beberapa penjual donat di sana, dengan menyebutkan ciri-ciri si nenek, namun tidak ada yang mengenali beliau.

Sekarang sudah beberapa tahun berlalu. Semoga si nenek masih dalam keadaan sehat, bugar, dan humoris seperti saat saya bertemu beliau. Aamiin.

Ini kisah nyata. Pengalaman pribadi saya. Sudah pernah saya ceritakan ke beberapa sahabat saya dan mereka bilang cerita ini membuat mereka merinding. Ah mosok iyo haha.

Entah siapapun nenek itu, saya sangat berterima kasih atas nasehatnya. Inshaa Allah berguna untuk kehidupan rumah tangga saya kelak.

Dan saya akui nasehat nenek itu memang benar. Ketika saya masih menjalin hubungan dengan pacar pertama dan kedua, tidak ada masalah dengan rasa cemburu yang berlebihan maupun sikap over posesif. Hubungan berakhir juga bukan karena pihak ketiga. Nah, di hubungan yang ketiga, karena kebetulan si doi gantengnya ga bisa diampuni, saya jadi cemburuan dan agak posesif. Sebenarnya doi tidak begitu mempermasalahkan, karena saya masih bisa mengontrol untuk tidak cemburu buta. Namun yang sering membuat doi jengkel adalah kecemburuan saya itu mengarah ke rasa insecure, sehingga saya sering berpikir negatif. Saya sering diliputi rasa curiga yang berlebihan. Lalu apa yang terjadi? Ya si doi lama-lama jadi mulai males dan menjauh. Sakit? Pasti. Tapi ini konsekuensi yang harus saya tanggung akibat sifat jelek saya sendiri.

Bagaimana menurut pendapat kalian? Terutama para lelaki nih.. benar ga sih kalo pasangan terlalu cemburuan dan posesif bisa membuat kalian ga nyaman? Kalo pasangan kalian seperti itu, apa yang kalian lakukan?

Dan buat ciwi-ciwi, apa yang kalian lakukan kalo lagi cemburu?

Kepo yaa gue wkwk 😛

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: