handiramy's Blog

Just a stupid weblog

BULAN, AKU RINDU

on July 16, 2016

BULAN, AKU RINDU

Bulan, apa kabar kamu? Hujan sudah lama membuatmu tidak tampak. Terlebih sudah dua purnamamu aku hilang. Dia juga. Maaf, dua purnama ini terlalu menyakitkan untuk sekadar menatapmu. Tapi, malam ini, aku akan bercerita lagi. Walaupun wajahmu masih bersembunyi. Dengarkan baik-baik seperti purnama-purnamamu sebelumnya yang menjadi teman baikku menahan rindu.

Bulan, aku rindu saat seseorang menatapmu dari sudut kota yang berbeda, sambil bercerita keluh kesahnya, lalu kamu, cukup dengan kutatap dan kusenyumi, akan menceritakan semua padaku. Terlebih jika ia bercerita tentang rindu, aku pasti akan tersenyum lebih lama padamu. Bulan, aku rindu saat aku dan dia sama-sama menyimpan rindu di wajahmu. Aku rindu saat aku dan dia luruh dalam diam, hanya rasa hati yang terlukis di wajahmu. Aku rindu saat aku dan dia, hanya tentang aku dan dia saja. Dan wajahmu tersenyum menatap balik wajah kami yang tersipu atau mendiam menahan sesak rindu.

Bulan, adakah doa-doa masih terpanjat dalam diam? Adakah rindu masih beradu di balik amarahku yang berpadu?

Maaf, di balik hujan yang merintik menutupimu malam ini, kukabarkan pada wajahmu tentang kesedihan dan amarah. Kupamerkan pula wajahku yang mengalirkan air, entah air hujan, atau air mata. Aku tak dapat membedakannya. Maka, demi air yang membasahi wajahku, kumohon jangan bercerita apa-apa selain tentang aku dan dia. Jangan bawa dia-dia lainnya, atau tiadakan saja cerita selainnya. Biar memang tidak ada cerita selain tentang aku dan dia. Aku dan dia, yang diam-diam menitipkan rindu dan doa padamu. Yang diam-diam menunggu satu waktu untuk menatapmu dari satu bingkai jendela yang sama. Ya, aku dan dia saja. Kamu pasti mengerti.

Hei, Bulan, kamu baik-baik saja kan? Kutunggu wajahmu tampak manis tanpa rintik hujan atau hitam awan. Karena sebelum purnamamu yang ketiga datang, aku ingin mendengar lagi celotehnya padamu sebagaimana ia berceloteh sebelas purnama lalu. Saat dia berbisik, “Bulan, aku merindukan seseorang yang menatapmu di kota lain”. Saat wajahmu masih menjadi saksi rindu diam-diam kita. Kita. Hanya aku dan dia. Tak ada lagi lainnya.

Bulan, aku rindu. Itu saja. Oh ya tentang aku dan dia. Saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: