handiramy's Blog

Just a stupid weblog

on May 29, 2016

Entah mengapa saya merasa kaku, kikuk, atau kagok, ketika ingin mengungkapkan rasa sayang saya pada orang lain, baik keluarga, sahabat, maupun kekasih saya sendiri. Terutama dalam bahasa Indonesia, seperti “aku sayang kamu” atau “aku cinta kamu”. Bahkan saya sangat kagok memanggil orang lain dengan sebutan “sayang”.

Sering sekali saya temukan teman-teman perempuan saya memanggil ‘sayang’ satu sama lain (biasanya disingkat dengan ‘say’). Suatu hal yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan karena saya benar-benar merasa kagok. Namun saya memperhatikan bahwa justru dengan panggilan sayang seperti itulah yang membuat hubungan semakin dekat. Saya pun merasakannya. Ketika ada teman yang memanggil saya dengan panggilan sayang, saya merasa seperti dirangkul. Maka dari itu saya mulai mencoba mempraktikkannya, supaya saya terbiasa dan tidak kaku lagi. Sekarang, saya sudah mulai agak terbiasa melakukannya, meskipun jarang. Namun, masih belum bisa untuk melakukannya face to face. Maksud saya, yang bukan via teks, alias ngobrol langsung (baik bertemu langsung maupun melalui sambungan telepon).

Bagaimana terhadap kekasih? Sama saja. Saya merasa kaku. Aneh bukan?
Di hubungan saya yang pertama, saya tidak pernah memanggil si dia dengan sebutan “sayang”, tidak pula dengan sebutan-sebutan sayang dalam bahasa Inggris. Satu-satunya panggilan sayang saya untuk si dia hanyalah “ndut”.
Pada hubungan kedua dan ketiga, saya tidak menggunakan bahasa Indonesia karena mereka bukan orang Indonesia. Jadi, saya tidak pernah memanggil mereka dengan sebutan “sayang”, “cinta”, dsb. Anehnya, saya tidak merasa kaku memanggil mereka dengan panggilan sayang dalam bahasa Inggris, yaitu “baby”. Mungkin karena mereka duluan yang selalu panggil saya “baby”, jadi saya ikut terbawa. Bahkan, pada hubungan yang ketiga, si dia memiliki banyak pet names untuk saya. Tidak hanya baby, namun juga sweetheart, baby boo, sweetlady, pretty lady, dsb. Saya sangat suka dengan panggilan baby boo, sehingga saya sering memanggil dia dengan booboo.
Sekarang, pada hubungan keempat, yaitu dengan pria Indonesia, pada mulanya saya masih sangat kagok untuk memanggilnya “sayang”. Namun saya berusaha, dan dimulai dengan via teks. Jika bertemu langsung, saya pasti masih merasa kagok memanggilnya sayang. Anehnya, saya tidak merasa kaku sama sekali, dan merasa nyaman, untuk memanggilnya “mas”, padahal usianya 3 tahun lebih muda dari saya. Panggilan mas ini merupakan yang perdana. Belum pernah saya berlakukan ke pria lain sebelumnya.

***
*will be updated later

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: