handiramy's Blog

Just a stupid weblog

Jolutang part 1

on April 10, 2016

Usia saya seharusnya sudah masuk usia matang untuk menikah, tapi saya masih juga jolutang (jodoh belum datang), mungkin karena kepribadian saya belum dianggap matang oleh Sang Penentu Jodoh.

Saya sendiri menyadari betapa saya masih immature dan childish dibandingkan dengan teman-teman sebaya saya yang sudah menikah (atau at least sudah punya pacar yang diseriusin).

Maklum, saya kan telat puber, hihihi.. (dan ini semua teman-teman dan saudara-saudara saya pada tahu, huhu).
Waktu saya masih duduk di bangku sekolah SMP, saya masih belum mengerti apa itu pacaran. Padahal teman-teman saya sudah pada pacaran. Bahkan saya masih belum tau bedanya antara pacar dengan teman. “What’s so special with ‘pacar’?”, selalu begitu pikir saya. Mungkin karena saya terlalu tomboy dan punya banyak teman lawan jenis. Malah lebih galak daripada mereka anak-anak cowok, haha..
Nah waktu saya SMA, saya mulai punya perasaan suka dan kagum terhadap lawan jenis. Saya suka sama seorang cowok (lebih senior dan dari sekolah yang berbeda) waktu kelas 1. Tapi kedekatan kami saat itu ga lebih dari sekedar kakak-adik atau senior-junior. Saya ga pernah mengungkapkan bagaimana perasaan saya ke dia karena saya minder, apalagi waktu doi diterima kuliah di Singapura.
Kurang lebih setelah setahun berselang, doi punya pacar baru di sana (dan sekarang sudah jadi istri). Saat saya pertama kali tahu bahwa doi sudah punya pacar, tidak ada perasaan sedih atau cemburu sama sekali. Lalu saya menyadari bahwa perasaan saya ke doi selama itu bukanlah cinta. Mungkin hanya rasa kagum, sangat kagum, karena saya memang suka cowok pintar. Kalau wajah sih, doi biasa saja. Tidak ganteng tapi juga tidak jelek.

Ketika saya naik kelas 3, saya ikut bimbel. Nah, di situ saya dapat ‘gebetan’ baru. Dari wajah sih memang wajah khas Indonesia, seperti campuran Jawa-Batak, tapi dia memang ganteng banget. Kalau sebelumnya saya minder karena saya merasa tidak pintar, nah kalau sama yang ini saya merasa minder juga karena saya tidak cukup cantik dan menarik untuk doi. Apalagi saat itu tubuh saya masih gembrot, hitam gosong pula, dan jerawatan, pokok’e ndeso. Sedangkan si doi malah sempat jadi finalis cover boy majalah remaja. Akhirnya saya juga tidak pernah mengungkapkan atau menunjukkan bahwa saya tertarik dengan doi. Setelah program bimbel selesai pun kami sudah tidak berkomunikasi lagi.

Lanjut ke zaman kuliah. Selama 2 tahun pertama, saya tidak punya gebetan baru. Karena saya fokus ke kuliah dan latihan jadi feminim, haha. Saya mulai care dengan jerawat-jerawat saya, dengan memakai produk krim siang malam (tapi bukan dokter). Saya mulai beli kaos-kaos cewek. Saya juga beli beberapa rok yang setelah dipakai sekali doang trus males pake lagi haha.
Dan bagusnya selama 2 tahun itu badan saya mengurus dengan sendirinya, tanpa diet. Mungkin karena hayati lelah.
Eh ternyata setelah wajah saya mulai mulus, penampilan agak melek, dan bodi mulai langsing, pas mulai masuk semester 5, banyak sekali cowok-cowok yang PDKT. Dari teman sekolah, teman seangkatan kuliah, sampai senior-senior kampus.
Saya sempat suka dengan seorang senior yang saat itu memang lagi PDKT ke saya. Tapi entah kenapa malah saya akhirnya menambatkan hati saya dan berpacaran dengan orang lain.

Pacar pertama saya ini, kita sebut saja dia dengan AL. Dia dulu pernah sekelas dengan saya waktu kelas 2 SMP, tapi karena dia dulu terkenal nakal, jadi saya ga pernah ngobrol dan temanan sama dia haha. Kami bertemu lagi saat liburan kuliah tingkat 2, kebetulan rumah kami memang tidak jauh. Jadi kami bertemu di suatu lapangan badminton pada Minggu pagi, dengan teman-teman sebaya lainnya. Dia jatuh cinta dengan saya pada pandangan pertama (ngakunya sih begitu haha).
Secara fisik, dia jauh dari tipe pria idaman saya. Tingginya hanya sekitar 5cm lebih tinggi dari saya (tipe ideal saya yang tingginya minimal 180cm, hihi), kulitnya hitam gosong kumel (saya suka yang putih, kuning langsat, atau agak coklat tak mengapa yang penting bersih), badannya gendut dan buncit (saya suka yang sedang-sedang saja). Ganteng juga enggak. Tapi cara dia berjalan memang gagah, dan badannya kuat.
Lalu kenapa saya bisa jatuh cinta dengan dia?
Well, butuh waktu hampir 1,5 tahun buat dia mendekati saya sampai akhirnya saya setuju untuk jadi pacarnya. Perjuangan dia mendapatkan saya itulah yang akhirnya membuat saya luluh. Dia saat itu satu-satunya lelaki yang saya dapat merasakan ketulusan cinta. Dia tidak pernah merasa sayang kehilangan banyak uang, waktu, dan tenaga hanya untuk menemui saya di Bandung (saat itu dia kuliah di Jakarta). Saya tidak pernah meminta apapun darinya tapi saya selalu kebanjiran hadiah. Dia guru fotografi pertama saya. Dia mengajarkan saya untuk mengeluarkan rasa percaya diri dengan taktik menjadikan saya sebagai model fotografinya. Dia bisa menjadi sahabat yang selalu mendengarkan masalah-masalah saya, terutama masalah keluarga yang tidak pernah saya ceritakan pada siapapun, dan dia selalu merespon. Dia mengajarkan saya banyak hal dan pengetahuan umum yang sebelumnya saya tidak paham. Saya suka dengan kecerdasannya. Dia selalu berhasil membuat saya tertawa, karena memang dia sangat humoris, dan saya suka pria humoris. Dan yang paling penting adalah dia sangat sabar.
Sekali lagi, secara fisik memang dia jauh dari tipe saya. Tapi saya jatuh cinta dengan kepribadiannya, yang sangat mendekati ideal di mata saya.
Namun sayangnya saat itu saya masih terlalu piyik untuk mengenal apa itu cinta yang dewasa, cinta yang dijunjung tinggi, bukan cinta yang disia-siakan. Saya menyia-nyiakan kesabarannya dengan keegoisan saya. Sifat saya yang terlalu keras ternyata terlalu mendominasi sifatnya yang terlalu lembut (bahkan terlalu lembek, kata sahabat-sahabatnya). Di saat saya mulai keras dan egois, dia tidak pernah bisa menasehati dan membimbing saya untuk berubah. Dia hanya mengalah, dan selalu mengalah, sehingga saya semakin egois dan dominan.
Takdir pun memisahkan kami. Bukan karena perbedaan sifat ini, tapi karena orang tua kami yang tidak dapat bersatu. Jika orang tua kami merasa awkward untuk besanan, bagaimana kami bisa bersatu? Saya sempat mencoba untuk berjuang mendapatkan restu dari orang tua kami masing-masing, tapi dia menyerah. Saya mencoba meyakinkan dia untuk memperjuangkan saya, tapi dia tetap merasa yakin bahwa hubungan kami tidak akan mungkin memiliki masa depan. Akhirnya kami sepakat untuk berpisah baik-baik. Namun setelah putus pun kami masih dekat sampai setengah tahun. Kami pun terpaksa memutus komunikasi demi dapat move on bersama. Bahkan hingga saya menulis blog ini, kami tidak pernah lagi bertemu maupun berkomunikasi.

Sebulan sebelum kami memutus komunikasi, dia mengajak saya makan siang di kawasan Tebet. Tentu saya, status kami sudah bukan pasangan kekasih lagi. Biasanya saat masa pacaran, setelah makan dia akan mengajak saya berkeliling sebelum pulang ke rumah. Namun tidak saat itu. Dia langsung menavigasi mobilnya ke arah rumah saya. Begitu hampir sampai di rumah saya, saya tiba-tiba menangis kencang. Dia pun kaget dan langsung merangkul saya dengan tangan kirinya sambil tetap menyetir dan langsung putar setir ke arah yang berlawanan dengan rumah saya. Dia bertanya apa yang terjadi pada saya tapi saya hanya tetap menangis. Dia menjauhkan mobilnya dari arah rumah saya, lalu menepi di suatu tempat. Kedua tangannya yang gendut menyeka air mata saya. Dia bertanya, “Kamu kenapa..? Hmm..?”. Saya hanya menggelengkan kepala dan berusaha untuk berhenti menangis. Dia bertanya lagi, “Kamu ga mau pulang?”. Saya mengangguk. Dia pun bertanya lagi, “Kenapa? Kamu masih kangen sama aku?”. Saya mengangguk pelan. Dia tertawa kecil, “Oalaaahh… hehehe… sini…”, kemudian memeluk saya. Saya pun membalas pelukannya dengan erat, dan membuat saya menangis lagi. Ternyata, itu adalah pelukan terakhir kami.
Tiga minggu kemudian, dia mengajak saya menemani dia berbelanja di Ace Hardware Mall Artha Gading. Saat sampai di parkiran, dia menitipkan Ipad-nya dan kunci mobil di tas saya (seperti biasa), namun tidak Blackberry-nya (biasanya dia titipkan juga). Saya menanyakan apakah dia mau menitipkan HPnya juga, dia bilang tidak usah namun ekspresinya agak gugup. Entah mengapa saya jadi agak curiga. Sambil jalan saya mencoba untuk meminjam HPnya namun tidak juga dikasih. Lalu dengan bercanda saya iseng merebut HPnya dari tangannya. Memang tidak dikunci tapi saya tidak ada niatan untuk menggeledah isi HPnya. Ternyata dia marah (padahal biasanya tidak pernah marah bahkan walaupun saya ‘membajak’ status BBMnya), lalu jalan duluan masuk ke dalam Ace Hardware. Saya segera menyusul masuk dan mengembalikan HPnya seraya meminta maaf. Dia tersenyum tulus lalu mulai mengajak mengobrol seperti biasa, sambil melihat-lihat barang. Entah kenapa saat itu saya merasa sedih. Saat dia tidak melihat saya, saya diam-diam jalan keluar Ace (kebetulan kami memang masih tidak jauh dari pintu). Saya melangkah ke arah jalan raya untuk mencari taksi, tapi ternyata dia menyusul saya dengan langkah cepatnya. “Kamu kenapa? Jangan bikin malu. Kayak sinetron aja deh haha.”, katanya bercanda sambil menggandeng tangan saya masuk kembali ke Ace. Saya tertawa dan minta maaf lagi. Lalu kami berbelanja dengan penuh canda tawa. Saya masih ingat mencoba sarung tinju dan berpose layaknya seorang petinju. Dia mengabadikannya dengan kamera HPnya. Saat kami melihat hasil fotonya, kami berdua baru menyadari bahwa saat itu badan saya sangatlah kurus.
Dia membelikan saya suatu tanaman mini organik di dalam pot mini bergambar gajah. Dia tau bahwa saya sangat suka tanaman hias mini. Terdapat banyak macam gambar hewan tapi dia memilihkan gajah, katanya supaya selalu ingat dia, haha.
Selesai berbelanja, kami langsung pulang. Di tengah perjalanan, dia menunjukkan foto-foto kucingnya di Ipadnya. Saat itu tidak sengaja saya melihat beberapa foto seorang cewek. Saya langsung merebut Ipadnya dan menemukan bahwa Ipadnya dipenuhi oleh foto-foto 2 orang cewek, yang satu sangat cantik dan yang satu lagi jelek tapi modis. Saya terbakar cemburu buta dan mulai marah, hal yang seharusnya sudah tidak berhak lagi saya lakukan karena saya bukan lagi kekasihnya. Dia juga mengakui kalau dia juga menyimpan foto-foto cewek yang jelek itu di HPnya. Kami bertengkar hebat hingga sampai di depan rumah saya. Di depan rumah, masih di dalam mobilnya, sebelum turun saya melemparkan tanaman hias berpot gajah mini yang dia belikan tadi, ke arahnya, dan mengenai dada kanannya. Sungguh perbuatan yang sangat kekanakan dan jauh dari sikap dewasa.

Ah, terlalu mendetail saya bercerita. Sekarang, setiap kali saya mengingat bagaimana saya menyia-nyiakan cintanya dengan sifat kekanakan dan keegoisan saya, membuat saya tertawa sendiri, sekaligus merasa bersalah.

Butuh waktu yang sangat lama bagi saya untuk move on darinya. Selama 4 bulan pertama, saya terus menangis setiap hari. Sungguh sangat kekanakan. Saya belum memahami arti keikhlasan saat itu.

*bersambung*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: